MIKRO ORGANISME LOKAL (MOL) SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR DARI LIMBAH PERTANIAN DAN KAITANNYA DENGAN KETERSEDIAN HARA MAKRO DAN MIKRO

  • I gusti Ngurah Alit Wiswasta Program studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Mahasaraswati Denpasar
  • I Ketut Widnyana Program studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Mahasaraswati Denpasar
  • I Dewa Nyoman Raka Program studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Mahasaraswati Denpasar
  • I Wayan Cipta Program studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Mahasaraswati Denpasar
Keywords: lahan tadah hujan, MOL, limbah pertanian, pupuk organik

Abstract

Lahan tadah hujan yang begitu luas di Indonesia yang mencapai 2,21 juta ha belum dimanfaatkan secara optimal, demikian juga di Bali sebanyak 85,26 persen atau 480.559 hektar dari luas lahan pertanian di Bali adalah lahan sawah tadah hujan, yang berarti hanya dapat ditanami padi setahun sekali dan itu pun petani harus sigap tepat waktu agar musim  hujan tidak lewat sehingga penanaman terlambat. Sawah tadah hujan mengandung makna bahwa pada musim kemarau otomatis tidak menghasilkan sebab ketersediaan air akan sangat terbatas sehingga cendrung dibiarkan kosong tanpa ditanami tanaman budidaya lainnya. Penelitian dilaksanakan   bertujuan untuk  mendapatkan komposisi limbah pertanian dalam pembuatan mikroorganisme indigen (MOL) yang efektif sebagai pupuk cair dan sebagai dekompuser limbah pertanian.   Penelitian ini merupakan penelitian eksperiment yang dilaksanakan di laboratorium  untuk mengetahui kandungan :  C-organik,  N-total,  P-tersedia,  K  tersedia dan pH  tanah. Indikator keberhasilan penelitian ini adalah didapatkan jenis limbah dalam pembuatan mikroorganisme indigen/lokal (MOL) yang membantu meningkatkan ketersediaan unsur hara pada lahan sawah tadah hujan,  dan diaplikasikannya  mikrooragnisme indigen/ MOL dan pupuk organik limbah pertanian sebagai pupuk organik dalam upaya meningkatkan produksi padi di lahan sawah tadah hujan. Hasil penelitian menunnjukkan bahwa proses dekomposisi bahan organik dari limbah pertanian yaitu sayur, buah, urine, dan campuran ketiga bahan tersebut menjadi MOL   sudah menunjukkan hasil yang baik pada proses permentasi dalam waktu 2 minggu sudah siap diaplikasikan sebagai permenteor pupuk organik padat dengan mikroba dominannya adalah Bacillus sp.

References

Buckman, H.O., Brady, N.C. 1982. Ilmu Tanah. Jakarta: Bhratara Karya Aksara (Terjemahan). 788 hal.
Djuarnani, N., Kristian, Setiawan, B.S. 2004. Cara Cepat Membuat Pupuk organik. Bogor : Agromedia Pustaka. 74 hal.
Guritno, B. 1986. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Malang: Universitas Btawijaya. 87 hal.
Muhadi, I., 1979. Pengetahuan Pupuk. Yogyakarta: Yayasan Pembina Fakultas Kehutanan UGM. 79 hal.
Rinsema, W.T. 1983. Pupuk dan Cara Pempukan. Jakarta : Bhratara Karya Aksara.
Rismunandar, 1981. Pengetahuan Dasar Tentang Perabukan. Bandung : Sinar Baru.
Rochayati dan Sri Adiningsih. 1989. Konservasi Bahan Organik Melalui Alley Cropping Pada Lahan sawah tadah hujan. Jakarta : Badan Peneliti dan Pengembangan Pertanian. Hal 8.
Setyorini, D., Saraswati, R., Anwar, E.K. 2006. Pupuk organik. Bogor : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Hal 11 – 40.
Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Yogyakarta : Kanisius. Hal 46 – 87.
Winarno, F.G., Budiman. A.F.S., Silitonga, T., Soewardi, B. 1985. Limbah Hasil Pertanian. Jakarta : Monografi. Kantor Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Pangan. Hal 243-254.
Yoshida, S. 1972. Physiological Aspects of Grain Yield. Los Banos : IRRI. 440 p.
Departemen Pertanian, 2002. Panduan Teknis. Sistem Integrasi Padi-Ternak. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Puslitbang, 2000. Deskripsi varietas unggul padi dan palawija 1999-2000. Puslitbang Tanaman Pangan, Bogor. 1-14.
Section
Articles