Inang Alternatif Cucumber Mosaic Virus (CMV) Penyebab Penyakit Mosaik pada Tanaman Mentimun

  • Ni Putu Pandawani Fakultas Pertanian,Universitas Mahasaraswati Denpasar Bali, Indonesia
  • Farida Hanum Fakultas Pertanian,Universitas Mahasaraswati Denpasar Bali, Indonesia
  • Ni Nyoman Suryani fakultas Ekonomi, Universitas Mahasaraswati Denpasar Bali, Indonesia
Keywords: penyakit mosaik, mentimun, Cucumber Mosaic Virus (CMV), inang alternatip

Abstract

Penyakit mosaik pada tanaman mentimun disebabkan oleh virus Cucumber Mosaic Virus (CMV). CMV merupakan virus yang berasal dari genus Cucumovirus, family Bromoviridae (Mochizuki dan Ohki, 2012). Virus ini dapat menginfeksi 1200 species pada lebih dari 100 famili tanaman sayuran dan hortikultura. Gejala penyakit yang ditimbulkan CMV dapat bermacam-macam tergantung pada tanaman yang diinfeksi dan umur tanaman saat terjadi infeksi (Zitter dan Murphy, 2009). Gejala penyakit yang terlihat pada tanaman mentimun, antara lain mosaic, klorosis, kerdil, daun mengalami malformasi dan nekrosis sistemik (Mochizuki dan Ohki, 2012). Kondisi kenyataan dilapang pada pertanaman mentimun lebih dari 80 % tanaman menujukkan gejala terserang penyakit mosaik dan petani di Baturiti dalam budidaya mentimun selalu berdampingan dengan budidaya beberapa komoditas tanaman hortikultura dan legumminosae lainnya. Hal ini yang memberikan kemungkinan untuk tetap adanya virus penyebab penyakit mosaik yang bertahan hidup pada beberapa tanaman disekitar kebun yang bisa menjadi inang alternatif virus CMV. Penelitian  dilakukan dengan  tujuan  untuk mengetahui  kejadian penyakit mosaik dan tanaman inang alternatip CMV  yang sangat diperlukan untuk menghindari munculnya dan penyebaran  penyakit mosaik sepanjang tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di beberapa sentra pertanaman mentimun di Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan kejadian penyakit mosaik berkisar antara 83,59% sampai 85,21% dengan kejadian penyakit tertinggi terjadi di  pertanaman mentimun Dusun Apit Yeh Desa Bangli. Rata-rata kejadian penyakit mencapai 84,25% dan sudah merupakan ancaman bagi pertanaman mentimun yang  dapat menyebabkan penurunan hasil dan bahkan gagal panen. Uji serologi sampel tanaman mentimun dari tujuh lokasi sentra  diperoleh hasil 42,85 % sampel positip terinfeksi CMV dengan gabungan infeksi WMV dan PRsV dan 57,15 % sampel positip terinfeksi CMV secara tunggal. Uji serologi tanaman inang alternatip CMV hasil dari  penularan mekanis CMV diperoleh  tanaman cabai besar (Capsicum annum), cabai rawit (C. frutescens), tomat (Lycopersicon esculentum), Pare (Momordica charantia) dan labu ( Cucurbita moschata) merupakan inang alternatip CMV dengan variasi gejala mosaik ringan sampai berat dan gejala malformasi daun dengan masa inkubasi dari 5 sampai 14 hari setelah inokulasi.

References

Badan Pusat Statistik,(BPS) 2012. Produksi sayuran di Indonesia. Jakarta [ID]: Badan Pusat Tersedia pada: http://www.bps.go.id /tab_sub/view.php.
Babadoost M. 1999. Mosaic Diseases of Cucurbits. University of Illionis Urbana Champagn Departement of Crop sciences. http://web.aces.uiuc.edu/vista/pdf_pubs/926.pdf [28 Januari 2015]
Bos, L.1994. Pengantar Virology Tumbuhan. Penerjemah Triharso. Gajah Mada
Djikstra, J. and De Jegger. 1998. Practical Plant Virology: protocol and Exercise. Boston: Springer
Hadiastono,T. 2010. Virologi Tumbuhan Dasar. Fakultas Pertanian Universitas
Hull R. 2002. Plant Virology. 4th edition. California (US): Academic Press.
Matthews, R.E.F. 1992. Fundamentals of plant virology.Academic Press Inc. San Diego. 403p
Matthews, R.E.F. 2002. Plant Virology. Fourth Edition. Academic Press.London.
Ong C.A. 1995. Symptomatic variants of CVMV in Malaysia. Proceeding of the AVNET II Midterm Workshop. Philippines 21-25 Februari 1995. AVRDC.
Palukaitis P, Roossinck MJ, Dietzgen RG, Francki RI. 1992. Cucumber mosaic virus. Adv Virus Res 41: 281-348.
Walkey David, G.A. 1991. Applied Plant Virology.Ed ke-2. London: Chapman and Hall.
Zitter TA., Murphy JF. 2009. Cucumber mosaic virus. The Plant Health Instructor. 15 Juni 2015. DOI:10.1094/PHI-I-2009-0518-01.
Section
Articles