IDENTIFIKASI KARAKTER FENOTIP DAN AGRONOMI BEBERAPA KULTIVAR SALAK GULAPASIR SEBAGAI KANDIDAT BIBIT UNGGUL DI KABUPATEN TABANAN BALI

  • Ni Gst.Ag.Gde Eka Martiningsih Staf Pengajar Fak Pertanian Univ. Mahasaraswati Denpasar
  • I Ketut Sumantra Staf Pengajar Fak Pertanian Univ. Mahasaraswati Denpasar
Keywords: Salak Gulapasir, Fenotif, Agronomi, Cekaman Kekeringan.

Abstract

Tujuan penelitian untuk mendapatkan  kultivar unggul produksi tinggi sebagai dasar pengembangan di daerah baru dan perakitan varietas baru   dalam menunjang  agrobisnis salak.  Penelitian dimulai bulan Mei – September 2015 bertempat di tiga lokasi pengembangan salak di Kabupaten Tabanan yaitu: desa Wanagiri, desa Pajahan   dan desa Munduk Temu.   Bahan tanaman yang digunakan   berjumlah 56 tanaman salak dengan perkiraan umur tanaman antara 6 tahun sampai dengan 8 tahun.  Pengamatan fenotip mengacu pada buku Panduan Pengujian Individual (PPI) spesies salak (Deptan., 2006).    Analisis data fenotip menggunakan: (1) uji Barlett, dan (2) Perbandingan antara nilai varians dengan standar deviasi. Pengamatan karakter agronomi untuk mendapatkan salak unggul dilakukan selama dua kali musim panen, mempergunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 14 kali ulangan (14 sampel untuk setiap kultivar).  Kultivar salak  yang diuji terdiri dari salak gulapasir Nangka (SGK), salak gulapasir Nenas (SGN), salak gulapasir Gondok (SGG) dan salak gulapasir Maong (SGM). Karakter agronomi yang diamati meliputi jumlah tandan buah, berat buah, dan berat bagian buah yang dapat dimakan. Analisis data dengan analisis ragam, dan bila kultivar menunjukkan pengaruh nyata sampai sangat nyata maka dilanjutkan dengan uji BNT 5%. Hasil penelitian menunjukkan: 1). Keempat kultivar menunjukkan variasi penotif yang luas pada karakter panjang tandan bunga, jumlah buah, berat buah, berat bagian buah yang dimakan, tebal daging buah dan Total Padatan Terlarut (TPT). 2). Salak gulapasir Nenas menghasilkan jumlah buah tandan-1 dan fruit set  lebih tinggi, namun tebal buah lebih tipis dan rasa buah lebih masam; 3). Salak gulapasir Nangka menunjukkan karakter agronomi unggul yang meliputi, berat buah, berat daging, dan tebal  daging buah baik pada panen musim sela maupun gadu. Dalam rangka pengembangan, salak Gulapasir kultivar Nangka perlu dipertimbangkan sebagai kultivar unggul di Kabupaten Tabanan. 

References

Anonymous. 2004. Pola pembiayaan usaha kecil (PPUK). Budidaya salak unggul. Bank Indonesia. pp. 35.
Ashari 2002. On the agronomy and botany of Salak (Salacca zalacca). PhD Thesis Wageningen University. pp. 126.
Bangerth F. 2000. Abscission and thining of young fruit and their regulation by plant hormones and bioregulators. Plant Growth Regulation. (31) : 43 – 59.
Gardner, F.P., R.B. Pearce, R.L. Mitchell. 1991. Fisiologi tanaman budidaya. Terjemahan H.Susilo. UI-Press. pp.428.
Kinet,J.M., R.M. Sach, G.B. Bernier. 1985. The development of flowers. In The Physiology of Flowering. Volume III. Florida:CRC Press. Inc. pp. 274.
Levitt, J. 1980. Responses of plant to environmental stresses. Water, radiation, salt and other stresses. Vol.II. Academic Press, New York-London-Toronto-Sydney-San Fransico
Kriswiyanti, E., K. Muksin, Watiniasih, M. Suartini. 2008. Pola reproduksi pada salak Bali (Salacca zalacca Var. Amboinensis (Becc.) Mogea. J. Bio. 11 (2): 78-82.
Leopold AC, Kriedemannn PE. 1975. Plant growth and development. Second edition. USA: Mcgraw- Hill Book Company. 271 – 336 p.
Lestari, R. and G. Ebert. 2002. Salak (Salacca zalacca (Gaertner.) Voss.) – The snakefruit from Indonesia. Preliminary Results of an Ecophysiological Study. Deutscher Tropentag - Witzenhausen, 9-11 October 2002 Conference on International Research on Food Security, Natural Resource Management and Rural Development. pp. 8.
Mogea, J.P. 1979. Faktor musim dalam pembuahan salak (Salaca edulis). Berita Biologi 2 (4): 71 -74.
Rahayu, L.R. Sudaratmaja, A. Rachim, Sumartini, W.Soethama, Rosdiah, Trisnawati. 1999. Pengkajian sistem usaha pertanian salak berbasis ekoregional lahan kering. IP2TP, Bali. pp.137.
Rai, I.N., C.G.A. Semarajaya, I.W.Wiratmaja, 2010. Studi fenofisiologi pembungaan salak Gulapasir sebagai upaya mengatasi kegagalan fruit set. J. Hort. 20 (3): 216-222 p
Sukewijaya, I.M., Rai and Mahendra. 2009. Development of salak bali as an organic fruit. As. J. Food Ag-Ind. Special Issue. 37- 43 p.
Sumantra,K., Sumeru Ashari, Tatik Wardiyati, Agus Suryanto. 2011. Hasil dan mutu salak Gulapasir pada ketingiian tempat berbeda di daerah pengembangan baru di Bali. Prosiding Seminar Nasional Perhimpunan Hortikultura Indonesia, Balitsa Lembang, pp.15
Sumantra, K. S. Ashari, T. Wardiyati, and A. Suryanto.2012a. The agroecosytem approach as a concept in sustainable cultivation of salak trees cv. Gulapasir in new development areas in Bali, in Proceeding of the International Conference on Sustainable Development (ICSD), Denpasar, Bali, 2012, pp. 348- 364.
Sumantra, K, Sumeru Ashari, Labek Suyasdi Pura, 2012b. Potensi hasil dan mutu buah beberapa kultivar Salak Gulapasir dan upaya perbaikannya di daerah pengembangan baru di Bali. Laporan penelitian hibah bersaing. Fak.Pertanian Unmas Denpasar. 50 h.
Sumantra, K. 2013. Kajian agroekosistem salak Gulapasir sebagai dasar perbaikan hasi dan mutu buah di daerah pengembangan baru di Bali. Disertasi. Fak. Pertanian Univ. Brawijaya Malang. 176 h.
Wijana, G. 1990. Telaah sifat-sifat buah salak Gulapasir sebagai dasar penggunaannya. Fakultas Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. pp. 163.
Wijana, G. A. Gunadi dan N. Kencana Putra. 1993. Upaya peningkatan kuantitas dan kualitas buah salak Bali dengan penentuan waktu penjarangan dan jumlah buah per tandan. Laporan Penelitian. F.P. Unud Denpasar. 40 pp.
Section
Articles