PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA BERBASIS DESA ADAT DI DESA PEJENG, TAMPAKSIRING, GIANYAR

  • Anak Agung Gde Raka Fakultas Sastra Universitas Warmadewa
  • i Wayan Wesna Astara Fakultas Sastra Universitas Warmadewa
  • I Made Mardika Fakultas Sastra Universitas Warmadewa
Keywords: warisan budaya, pelestarian, pengelolaan berbasis desa adat

Abstract

Desa Pejeng memiliki warisan budaya berupa tinggalan arkeologi yang sangat kaya. Hampir di setiap jengkal wilayah desa dapat ditemui adanya tinggalan budaya. Kekayaan dimaksud bukan hanya dari jumlahnya, akan tetapi lebih dari itu, warisan budaya mengandung kekayaan nilai-nilai yang luhur seperti nilai sejarah, budaya, religi, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Begitu penting keberadaan living culture, membuat masyarakat Pejeng memikul tanggung jawab utama dalam pemeliharaan warisan budaya tersebut. Untuk tetap menjaga kelestarian warisan budaya dibutuhkan biaya yang relatif tinggi. Apalagi beberapa di antaranya harus dibebankan kepada kelompok-kelompok keluarga, maupun kepada individu-individu, satu atau dua kepala keluarga. Fenomena ini tentu menjadi masalah bagi keberlangsungan pelestarian warisan budaya di Desa Pejeng. Oleh karenanya, permasalahan tersebut membutuhkan solusi melalui pola pengelolaan warisan budaya berbasis desa adat. Bertolak dari kenyataan tersebut tim pengabdian kepada masayarakat memandang perlu melaksanakan pengabdian di Desa Pejeng pada tahun anggaran 2015/2016. Tim telah melakukan persiapan seperti survey, observasi, pemetaan situs, dan menentukan/menetapkan objek yang dipilih menjadi sasaran pengabdian, yaitu Pura Penataran Sasih, Pura Teledu Nginyah, dan Pura Kepatihan. Setelah dilakukan persiapan, tim melakukan pengabdian melalui kegiatan dengan mewawancarai Bendesa Adat Pejeng, dan dua kepala keluaga yaitu Guru Lanas, di Dusun Pande yang memelihara Pura Tledu Nginyah dan Dewa Ngakan Putu Cakra,  di Dusun Intaran, yang memelihara Pura Kepatihan. Pengabdian juga dilakukan melalui FGD dengan tokoh-tokoh Desa Adat dan pemilik dua pura yang dijadikan objek pengabdian. Pengabdian kemudian menghasilkan kesepakatan tentang pola pengelolaan warisan budaya di Desa Pejeng, termasuk subsidi silang kepada kelompok yang memiliki tanggung jawab dalam pelestarian warisan budaya. 

References

Dinas Pariwisata Kabupaten Gianyar. 2011. Potensi Pariwisata Kabupaten Gianyar.
Kementeriaan Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jenderal Sejarah dan
Purbakala. 2010. Undang-Undang Republik Idonesia Nomor 11 Tahun
2010 Tentang Cagar Budaya.
Kempers, A.J Bernet. 1960. Bali Purbakala: Petunjuk Tentang Peninggalan
Purbakala di Bali. Djakarta: Penerbit “Ichtiar”.
Said, Edward. 2012. Dunia, Teks, dan (Sang) Kritikus. Denpasar: CV Bali Media Adhikarsa.
Satrio, A.Junus. 2012. “Perlindungan Warisan Budaya Daerah Menurut Undang-
Undang Cagar Budaya”, dalam Arkeologi Untuk Publik. Jakarta: Ikatan
Ahli Arkeologi Indonesia.
Stutterheim, W.F. 1929. Oudheiden van Bali, terjemahan bebas A.A.Made
Tjakra,Tp.
Section
Articles