IbM KELOMPOKTERNAKMADULEBAHDESA PELAGA KECAMATAN PETANG KABUPATEN BADUNG

  • I Made Kartika Fakultas Ekonomi , Universitas Ngurah Rai Denpasar
  • I Made Sumada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Ngurah Rai Denpasar
  • I Made Santosa Fakultas Ekonomi , Universitas Ngurah Rai Denpasar
Keywords: Ternak Madu Lebah, produksi, Ekstraktor, Desa Pelaga

Abstract

Ipteks bagi Masyarakat /IbM telah dilaksanakan di Desa Pelaga Kecamatan Petang  Kabupaten badung pada kelompok Ternak Madu Giri Lebah(mitra I) dan Kelompok Ternak Madu NyangiSari( mitra II) kegiatan pengabdian pada masyarakat pada tahun 2015.Permasalahan mitra adalah bagaimana meningkatkan produksi madu, kualitas madu serta pemasaran hasil produksi yang belum optimal. Untuk mengatasi permasalahan tersebut programpengenalan mengoperasikan alat produksi yang efektif yang berbasis teknologi ’alat pengepresan madu:Ekstraktor”sedangkandalam meningkatkan pemasaran dengan melakukan kemitraan dengan pengusaha yang menampung / konsumsi produk, memperbaiki kemasan , dan manajemen produk berorientasi pasar. Sehingga mampu meningkatkan produksi dan pemasaran.Luaran yang dihasilkan  dari kegiatan Ipteks bagi Masyarakat ini adalah :  Selama kegiatan IbM. Kelompok ternak Madu Giri Lebah dab kelompok ternak Nyangi Sari akan mampu menghasilkan madu 25-45 botol ukuran 650ml dan madu lebah kecil (kele) 5-10 botol ukuran 250ml. Meningkatnya Hasil produksi kelompok ternak madu berupa madu lebah.Model program manajemen operasional pada ekstraktorini akan mengatasi masalah dalam waktu kerja yang cepat, karena dalamwaktu yang singkat dapat memprediksi luaran madu sebagai produk, sehingga biaya operasional pekerjaan menjadi murah dan  penggunaan tenaga kerja serta waktu kerja yang efisien.Metode pelaksanaan, untuk mengefektifkan pelakasanaan kegiatan maka diperlukan suatu kerjasama dengan mengedepankan :1) melaksanakan kemitraan dalam hal ini yang terlibat sebagai mitra.2) Dalam hal produksi alat ekstraktor yang dapat membantu dengan mudah melakukan pengepresan madu , dan menjaga kualitas madu dengan baik. Dan mampu melayani pembeli tidak lagi menunggu hasil pengepresan, memprediksi jumlah madu yang dihasilkan.3) Keswadayaan, keswadayaan harus dikembangkan sebagai strategi dasar pemdampingan masyarakat mengingat  jangka waktu yang terbatas. 4)Orientasi pasar, dimana yang dihasilkan benar-benar merupakan kebutuhan pasar sehingga tetap keberlanjutan. Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan dapat disimpulkan penggunaan alat ‘Ekstraktor “ pada kedua mitra dapat membantu meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil madu,.

References

BPS Badung (2010) Badung dalam Angka, Badung, Laporan BPS
BPS Bali (2010), Bali dalam Angka, Denpasar,
Basu Swasta, (2004), Manajemen Produksi dan Operasi, Penerbit UGM press
Sukanto Reksohadiprojo dkk, (2000), Manajemen Produksi, BPFE Yogyakarata.
T Hani Handoko (2003), Dsar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi, BPFE Yogyakarta.
Pusat Pelebahan Pramuka, (2002), Petunjuk Beternak Lebah
MasUd Machfeodz, dkk, Kewirausahaan Pendekatan Kontenporer.
Section
Articles